Jumat, 22 Mei 2009

ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN

ILMU PENGETAHUAN

DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Ilmu pengetahuan sebagai tolak ukur kita dalam melakukan tugas kemanusiaan sehari-hari. Ketika seorang manusia telah memiliki sedikit ilmu pengetahuan ia akan selalu terarah kehidupannya dengan adanya ilmu pengetahuannya. Ia menghadapi masalah-masalah yang mengenai dirinya dengan tenang hati dan jiwa. Banyak orang yang menyambutnya dan menghormatinya serta tunduk kepadanya kualitas keilmuannya. Dan banyak orang yang berandai-andai untuk menyamai dan mengejar ketinggian ilmunya. Dan dengan ilmu pula seseorang bisa menduduki pangkat yang lebih tinggi serta mendapatkan kekuasaan dan menjadi seorang penguasa dalam sebuah negara.

Dalam Al-Qur’an banyak juga kita jumpai ayat-ayat yang mendorong kita sebagai umat islam untuk selalu belajar dan memahami alam semesta ini. Al-Qur’an juga banyak membahas tentang keadaan dan kondisi alam. Dari keadaan dan kondisi alam inilah kita akan banyak mendapatkan ilmu-ilmu tentang alam. Karena alam semesta ini dapat di pahami dan di teliti secara mendetil oleh manusia kapan dan di mana saja. Akan tetapi setelah seseorang mendapatkan ilmu-ilmu dari alam ini, hendak kemana mereka dan di pergunakan untuk apa oleh mereka. Apakah hanya untuk menaklukkan dunia atau mungkin hanya sekedar untuk mendapatkan kekuasaan. Dengan pertanyaan-pertanyaan inilah hendaknya kita bisa merenungkan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang di dapat dengan baik dan benar.

Ketika kita mengingat terhadap apa yang sampaikan oleh Al-Qur’an bahwa manusia di utus kebumi adalah sebagai khalifah.(1) Sebagaimana Al-Qur’an menyebutnya dalam surat Al-Baqarah ayat 30, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi(2) dan juga dalam surat Fatir ayat 39, “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, kekafirannya membaliki kepada dirinya sendiri ….(3). Dengan demikian kita berada di muka bumi ini tidak lain adalah sebagai pemimpin yang tugasnya memelihara bumi dan isinya. Dan kita sebagai umat manusia tidak harus terlepas dengan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an.

Kata khalifah ketika di maksudkan dengan pemimpin di muka bumi, maka seorang manusia harus bertanggungjawab terhadap tugas-tugasnya sebagai seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak harus menguasai sehingga cenderung menafikan dan merusaSk terhadap yang lainnya. Khalifah layaknya seorang pemimpin yang berbuat adil (bersikap luhur dan bertanggungjawab) terhadap rakyatnya. Demikian juga kita sebagai khalifah berhak untuk memelihara lingkungan yang ada di sekitarnya.

Kemudian mengenai tujuan ilmu pengetahuan dalam islam adalah tidak lain yaitu hanya untuk mengetahui Tuhan dan segala apa yang di cipta oleh-Nya. Jadi pada dasarnya seorang manusia dalam mencari ilmu menurut islam tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kejadian-kejadian alam, akan tetapi di samping itu juga bagaimana seorang manusia bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Sebagaimana yang di katakan oleh Ali Kattani(4) bahwa seorang manusia di tuntut memperlakukan dan menggunakan ilmu pengetahuannya tidak hanya mengenal terhadap kejadian-kejadian alam semesta saja, akan tetapi juga dengan ilmu pengetahuannya manusia bisa memberikan pelayanan yang baik terhadap manusia yang lainnya dan mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Juga sebagaimana perkataan yang di sampaikan oleh Allamah Faydh Kasyani, “Ilmu yang di wajibkan kepada setiap muslim untuk mencarinya adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada Hari Akhirat, dan yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan-utusannya Allah, pemimpin-pemimpin islam, sifat-sifat Tuhan, Hari Akhirat, dan hal-hal yang menyebabkannya dekat kepada Allah”.(5) Jadi mencari ilmu pengetahuan tidak hanya semata-mata bertujuan untuk mendapatkan kebahagian dunia tetapi juga bertujuan untuk mendapatkan keberuntungan di Akhirat kelak. Dan juga bertujuan untuk mengenalkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Jasiyah ayat 4: “Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang-binatang yang melata itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang meyakini”.(6)

Dengan demikian ilmu yang sebenarnya dalam agama islam adalah apabila ilmu pengetahuan itu di jadikan sebagai petunjuk dalam rangka bertambahnya keimanan seseorang kepada Tuhan-Nya. Sebagaimana cita-cita Al-Qur’an dalam sebuah firman-Nya surat Al-Hajj ayat 54; “Dan agar orang-orang yang telah di beri ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hari mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.(7) Demikianlah Al-Qur’an menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bisa membuahkan iman dan keimanan membuahkan kekhusyu’an dan tawadhu’ kepada Allah SWT.

Jadi menurut penulis konsep ilmu dalam perspektif islam sangat berbeda dengan konsep ilmu barat. Karena dalam islam lebih luas wilayah jelajahnya, yaitu segala ilmu yang membawa dampak nilai guna, baik pengetahuan empiris maupun non empiris, wujud material maupun wujud spiritual (rohani). Zaitun(8) mengatakan bahwa ilmu dalam perspektif islam mempunyai empat karakter yaitu : 1) Objektif, artinya bahwa ilmu itu tidak di arahkan kepada kemauan hawa nafsu, subjektivitas, bias, fanatisme dan seterusnya. 2) Kerendahan hati, artinya adalah menjauhkan dari sikap arogansi intelektual, kerena manusia kemampuannya terbatas. 3) Kemanfa’atan, ilmu yang berguna baik dari aspek empiris maupun non empiris dala aspek aqidah dan akhlak. 4) Keajekan atau terus-menerus, artinya ilmu itu harus di cari terus-menerus di mana saja dan kapan saja tanpa mengenal batas dan waktu.

Merujuk pada kata khalifah di atas, manusia sebagai penerima ilmu pengetahuan ia tidak akan lepas dari tanggungjawabnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Ia harus melaksanakan apa yang telah di cita-citakan oleh Al-Qur’an yaitu seperti apa yang di cirikan oleh Zaitun tadi. Dalam Al-Qur’an mencontohkan orang yang ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad SAW. yang oleh kebanyakan orang muslim di sebagai Manusia yang sempurna atau manusia universal.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan manusia yang benar-benar dan terpelajar dalam perspektif islam (beradab) adalah “Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggungjawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya, yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab”.(9) Sebagaimana juga Hadits Rasulullah yang berbunyi: “Aku di utus kedunia tidak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Jadi dalam perspektif islam ilmu pengetahuan itu adalah bagaiman dengan ilmu pengetahuannya manusia bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah dan juga dalam rangka untuk mendapatkan ridha-Nya kelak di Akhirat. Dalam islam ilmu pengetahuan di jadikan sebagai media/instrumen untuk mengenal dan mendapatkan ridha-Nya. Sehingga dengan ilmu pengetahuan manusia bisa bertambah kadar keimanannya dan melahirkan kekhusu’an dan yang menjadikan ia tawadhu’ hatinya kepada-Nya. Di samping itu juga manusia yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi bisa memberikan pelayanan yang baik dan sopan beradab kepada seluruh manusia. Maka dengan demikian, baru dikatakan manusia yang sempurna dan universal sebagaimana layaknya Nabi Muhammad SAW. yang di gambarkan oleh Al-Qur’an dan di sebutnya sebagai khalifah di muka bumi.



(1) Lihat Suparlan Suhartono, M.Ed., Ph.D. “Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan”. Hal. 165-171

(2) Lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama RI “AL-JUMATUL ALI: Seuntai Mutiara Yang Maha Luhur” Hal. 7

(3) Ibid., Hal. 440

(4) Kutipan dalam sebuah Artikelnya M. Zainuddin, termasuk salah satu dosen tetap dan Kepala Unit Penerbitan STAIN Malang, Majalah el-HARAKAH; Wacana Kependidikan, Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi 57, Tahun XXII, Desember – Pebruari 2002. Hal. 36

(5) Lihat Filsafat-Sains menurut Al-Qur’an, Oleh Dr. Mahdi Ghulsyani, Hal. 44

(6) Lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama RI “AL-JUMATUL ALI: Seuntai Mutiara Yang Maha Luhur” Hal. 500

(7) Ibid., Hal. 339

(8) Sebuah kutipan dalam Artikelnya M. Zainuddin, termasuk salah satu dosen tetap dan Kepala Unit Penerbitan STAIN Malang, Majalah el-HARAKAH; Wacana Kependidikan, Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi 57, Tahun XXII, Desember – Pebruari 2002. Hal. 37-38

(9) Sebuah kutipan langsung dalam Artikelnya Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, “KONSEP AL-ATTAS TENTANG TA’DIB (Gagasan Pendidikan Yang Tepat dan Konprehensif dalam Islam)”, Majalah Pemikiran dan Peradaban “ISLAMIA”, Membangun Peradaban Islam Dari Dewesternisasi Kepada Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Th.I, No 6, Juli – September 2005, Hal. 77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar